UU Pesepeda

 

Shalatlah !

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 22 TAHUN 2009
TENTANG
LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

Pasal 25​

Quote:
(1) Setiap Jalan yang digunakan untuk Lalu Lintas umum wajib dilengkapi dengan perlengkapan Jalan berupa:
g. fasilitas untuk sepeda, Pejalan Kaki, dan penyandang cacat;​

 

Pasal 45​

Quote:
(1) Fasilitas pendukung penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan meliputi:
b. lajur sepeda;​

 

Pasal 62​

Quote:
(1) Pemerintah harus memberikan kemudahan berlalu lintas bagi pesepeda.
(2) Pesepeda berhak atas fasilitas pendukung keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran dalam berlalu lintas.​

 

Pasal 106​

Quote:
(2) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki dan pesepeda.
Paragraf 8
Kendaraan Tidak Bermotor​

 

Pasal 122​

Quote:
(1) Pengendara Kendaraan Tidak Bermotor dilarang:
dengan sengaja membiarkan kendaraannya ditarik oleh Kendaraan Bermotor dengan kecepatan yang dapat membahayakan keselamatan;
mengangkut atau menarik benda yang dapat merintangi atau membahayakan Pengguna Jalan lain; dan/atau
menggunakan jalur jalan Kendaraan Bermotor jika telah disediakan jalur jalan khusus bagi Kendaraan Tidak Bermotor.
(2) Pesepeda dilarang membawa Penumpang, kecuali jika sepeda tersebut telah dilengkapi dengan tempat Penumpang.​

 

Pasal 123​

Quote:
Pesepeda tunarungu harus menggunakan tanda pengenal yang ditempatkan pada bagian depan dan belakang sepedanya.​

 

Pasal 284​

Quote:
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki atau pesepeda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).​

1 Komentar

One thought on “UU Pesepeda

  1. Muchtar Fatwa

    RIYA’ PENYAKIT SOSIAL
    DALAM KEMASAN ‘KEINDONESIAAN’

    Oleh : Muchtar Fatwa

    Penyakit jiwa yang tanpa terasa keberadaanya adalah riya’. Menurut bahasa riya’ berarti ingin dipuji, disanjung dan dipuja oleh manusia. Riya’ hampir berjangkit pada semua lapisan manusia, apalagi pada masa kampanye saat ini, setiap orang berlomba-lomba untuk berbuat baik dan menonjolkan diri walau sesaat agar mendapat perhatian, dukungan dan sokongan guna meluluskan jalan ke Senayan.

    Penyakit hati ini tidak saja merajalela dikalangan eksekutif, kelas atas dan elite politik, bahkan dikalangan rakyat jelata pun menjadi epidemis. Padahal peringatan Rasulullah SAW. sangat tegas bahwa, riya adalah perbuatan musyrik.
    عن جـنداب بن عبدالله رضى الله عنه قال : النبي صلى الله عليه وسلم : من سمع سمع الله به ومن يراء يراء الله به – متفق عليه
    Dari Jundab Bin Abdillah, ia berkata : Nabi SAW bersabda : “Barang siapa mempublikasikan dirinya kepada orang lain, maka Allah akan membalasnya (siksa), dan barang siapa pamer, maka Allah akan membalasnya (siksa) dengan pamernya”. (HR. Bukhari Muslim)
    وعن شداد بن اوس رضى الله عنهانه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول :: من صام يرائ اشرك, ومن صلى يرائ

    فقد اشرك, ومن تصدق يرائ فقد اشرك – اخرجة البيهقي
    Dari Saddad bin Aus, sesungguhnya ia mendengarkan nabi bersabda : “ Barang siapa berpuasa demi mencari pujian manusia, sesungguhnya ia berbuat Syirik, barangsiapa melaksanakan shalat demi mencari pujian manusia sesungguhnya ia berbuat syirik dan barang siapa yang ber shodaqoh (berderma) demi mencari pujian manusia sesungguhnya ia telah berbuat syirik”. (HR. Baihaqi)
    عن محمود بن لبيد قال : خرج النبي صلى الله عليه وسلم فقال : ايها الناس : اياكم و شرك السرائر قالوا وما شرك السائر ؟ قال يقوم الرجل يصلي فيزين صلاته جاهدا لما يرى من نظر الناس اليه, فذالك شرك السائر, – اخرجه ابن خزيمة
    Dari Mahmud Bin Labid, ia berkata : Nabi SAW. keluar lalu bersabda : “ Hai, manusia sekalian jauhilah olehmu syirik tersembunyi”. Mereka bertanya : “Apakah syirik yang tersembunyu itu ?”. Lalu Beliau menjawab :”Seseorang yang melaksanakan shalat, lalu ia menampakkan shalat yang baik dan bersungguh-sungguh, karena sedang dilihat orang lain, maka itulah syirik yang halus.” (HR Ibnu Khuzaimah)

    Beberapa perbuatan, tindakan dan ucapan bahkan niatpun bisa terperangkap sifat riya’. Seseorang yang senantiasa menonjolkan diri, ingin dipuji sesama, terpakai atasan walau dengan cara-cara yang tidak terpuji merupakan perbuatan yang dikutuk Allah, riya’. Kadangkala tidak terasa, saat ia mamamerkan perbuatan baik, seolah menolong kesusahan orang, membeli barang atau perbuatan yang menurutnya baik namun tidak untuk oranglain, justru menyakitkan hati orang lain.
    Memang sulit meraba hati orang lain, jika kita tidak pernah merasakan penderitaan, kesusahan seperti halnya mereka yang menderita. Mungkin, bagi beberapa kalangan ia merasa tidak pernah merugikan orang lain. Kasus Perumahan elit di Jakarta seperti Pantai Indah Kapuk ‘sesaat’ tidak merugikan oranglain. Toh mereka (pengembang) membangun dan penghuninya membeli dengan keringat mereka sendiri tidak pernah merugikan orang lain. Namun, tidakkah hati mereka terbuka dengan penderitaan sekitarnya, ketika kebanyakan wong cilik , kaum Mustadz’afin boro-boro buat mikirin Rumah Real Estate dengan segala perlengkapannya, buat makan sehari-hari saja bukan saja peras keringat tapi peras darah. Ketika mereka makan di sebuah Restorant dengan harga satu porsi setara dengan gaji guru satu bulan tidakkah terlintas nasib sesamanya yang kelaparan. Harga mobilnya pun cukup membuka lahan usaha bagi ribuan penganggur. Belum lagi perabotan serta peralatan rumahtangganya, bisa memberikan dana pendidikan buat satu provinsi.

    Hal kecil dalam kehidupan bertetangga, kadangkala terbersit dalam fikiran ‘calon riya’’ untuk dapat hidup lebih segala-galanya dari tetangga mulai dari rumah, mobil, perhiasan, status, bahkan sekolah anak dan pembantu dijadikan sarana riya’. Memang menggelikan masyarakat kita yang baru bangkit dari peradaban dan baru mengenyam kemerdekaan. Istilah kerennya OKB.

    Beberapa sikap pengembangan toleransi terhadap sesama di negara berkembang memang masih sulit dijalankan. Sikap arogansi dan ingin dipuji manusia merupakan kepuasan bagi para OKB. Dinegara maju, sikap toleransi mudah ditemukan. Di AS saja para eksekutif dan konglomerat, berderma, merupakan agenda utama mereka dan sikap menonjolkan diri sama sekali tidak terlintas, yang dikedepankan adalah pola pikir serta ide kreatif pengembangan program, tidak kemudian menjadi one man show. Sagala kumaha ceuk dewek , biar aku yang dikenal dan lebih baik dari siapapun, itulah sikap riya’ yang bersarang dalam diri OKB.

    Di Indonesia, seorang OKB senantiasa ingin duduk di kursi depan mobilnya dengan tujuan agar terlihat sebagai boss. Sangat kontras dengan para eksekutif di negara-negara maju. Beberapa urusan yang kurang prinsipil biasanya diberikan, didelegasikan kepada stafnya, lain dengan di kita. Segala urusan semuanya gue yang ngurus. Banyak hal-hal yang sebenarnya lucu dan mengundang cemooh dari perilaku orang-orang yang ingin dipuji-puja.

    Dalam konteks lain, riya’ bermakna juga sombong. Kesombongan biasanya berakar dari harta, Keluarga dan keturunan, ilmu pengetahuan, penampilan fisik dan ritual kepada Yang Maha Kuasa.

    Seorang yang ditakdirkan kaya raya, milioner atau hartawan sangat rentan dengan kesombongan. Harta yang seolah ‘miliknya’ menjadi andalan untuk meninggikan derajat serta kehormatan di depan khalayak, keluarga dan sejawat. Sangat naïf jika harta disombongkan hanya untuk menunjukan kebaikan dirinya dengan keingininan disebut dermawan. Padahal kita fahami kedudukan harta adalah milikNya Allah semata ( المال مال الله ), ‘kepemilikan’ harta bagi manusia bersifat majazi (symbol; methafora), ( الملك المال مجازي ) dan pendayagunaan harta haruslah dengan kontrol wahyu agar bermamfaat di jalan Allah ( استمال مال في مرضاة الله ).
    Jelaslah, bahwa kesombongan dengan harta tidak akan memberikan kepuasan bagi dirinya, bahkan bisa jadi ia akan menjadi beban bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat kelak.

    Nabi Sulaiman As. ditawari oleh Allah dua hal, Ilmu yang bermamfaat atau harta yang melimpah. Tawaran ini di jawab oleh Nabi Sulaiman As. ilmu yang bermamfaat. Dan Kekayaanpun didapat, namun tidak menjadikan Sulaiman seorang yang sombong. Qorun dikaruniai Allah harta yang melimpah, namun ia seorang yang sombong. Seolah apapun dapat dibeli dengan uang. Hingga iapun mati dalam kondisi terhina. Akan terasa aneh jika seseorang bercita-cita kaya hanya melihat sepintas arti dari kekayaan.

    Money politics, yang popular di kalangan politisi Indonesia menunjukkan moral politisi (orang kaya) dapat dibeli dengan uang. Anggapan ini menjalar kepada hampir masyarakat Indonesia yang beranggapan bahwa uang adalah segala-segalanya. Seluruh sendi kehidupan setidaknya terjangkit penyakit ini, suap, uang sabun, uang pelicin, politik uang, uang palsu, perampokan, korupsi dll. Tidak sedikit pengaruh ini menjadikan bangsa yang bersatu padu, sahabat karib bahkan keluarga tercinta hancur berantakan, luluh lantak karena pengaruh kesombongan dari harta yang salah arah.

    Sebenarnya apa yang akan disombongkan oleh manusia semuanya pasti akan berakhir. Harta bisa saja habis karena terbakar, kemalingan, kecopetan, Keturunan bisa saja mereka jatuh moral ataupun mati, ilmu tidak bisa dijadikan sebagai hiasan sombong bisa saja ilmu yang dicapai dengan berjejernya gelar akademis hilang seketika karena Amnesia, gila, stress, dan ibadah yang hanya mengharap puijian karena manusia, ingin sombong kepada manusia sebagai manusia paling suci, paling alim suatu saat akan dinampakkan kepada manusia kebobrokan, kelamnya hati kepada publik oleh Allah.

    Saat tergerak ingin popularitas dalam diri (qolbu) manusia, saat itulah kesempatan syetan bergentayangan dalam diri manusia. Menguasai dirinya. Sehingga untuk mencapai ingin ‘terpuji’ dengan menghalalkan segala cara ( تبرر الوسائل ). Money politics, menjatuhkan kredibilitas orang lain, menjilat, menjadi orang munafik dan perbuatan tidak terpuji lainnya. Itulah sebenarnya penampakkan syetan dalam perilaku kotor manusia.

    Kesombongan dan riya’ akan melahirkan tindakan anarkis, otoriter dan sewenang-wenang. Karena ia merasa dirinya lebih benar, lebih baik, lebih kuat daripada oranglain. Sehingga kekuasaan yang diliputi kesombongan dan riya’ selain akan merugikan dirinya terlebih akan menyusahkan dan menyengsarakan kepada rakyat. Beberapa kisah bagaimana kehancuran suatu bangsa diakibatkan oleh virus riya’ yang berjangkit pada suatu bangsa. Kehancuran Fir’aun karena kesombongannya, kehancuran bangsa Sadum yang sombong kepada Allah, bangsa Persia dan Romawi yang merasa besar sehingga hancur akibat keangkuhanya, Abu Jahal kalah oleh Muhammad SAW. karena riya’ menjankiti dirinya.

    Seorang Yahudi tua yang miskin terkena gusur proyek perluasan Masjid di Mesir. Merasa didzalimi penguasa (gubernur) Mesir Amr al-Ash, dengan bersusah payah iapun bermaksud mengadukan kasus penggusuran ini kepada Presiden Umar bin Khatab di Madinah. Pada awalnya ia ragu dan berfikir :”bawahannya sudah sedemikian kejam dan sewenag-wenang, bagaimana pemimpinnya, mungkin lebih kejam dan otoriter”. Namun niatnya tidak terbendung dengan ketidakpuasan atas kesewenang-wenangan Gubernur Amr al-Ash. Sampailah ia di Madinah, sangatlah terkejutnya ia ketika mendapatkan pusat pemerintahan Negara Adi Kuasa Madinah hanya sebuah Masjid sederhana dengan Presiden yang amat Zuhud dan Wara’. Umar bin Khatab menemui orang Yahudi tua itu tanpa birokrasi yang sulit. Si Yahudi sangat terkesan dengan kesederhanaan serta sikap welcome Amirul Mukminin. Setelah mengutarakan maksudnya si Yahudi tua. Umar bin Khatab kemudian mengambil sepotong tulang dan menggariskannya dengan pedangnya yang tajam. “Bawalah ini dan berikan kepada Gubernur”. Walau belum memahami maksudnya dibawalah tulang bergaris pedang itu kepada Amr al-Ash. Begitu menerima tulang tadi, betapa takutnya gubernur. Dengan keringat dingin dan bergetar ia mengintruksikan untuk menghentikan proyek pelebaran masjid dan memberikan ganti rugi kepada si Yahudi tua. Sekarang, si Yahudi tua yang kebingungan dan mempertanyakan kepada gubernur : “ Gub, apa maksud semua ini ?”. “Begini Hud (maksudnya Yahudi), tulang tadi peringatan bagiku, jika aku berbuat sewenang-wenang maka hukumanya adalah pancung”. Si Yahudi tua sangat tersentuh dengan keadilan serta sikap toleran Pemerintahan Islam, sehingga akhirnya ia menyatakan taslim dan merelakan gubuknya untuk proyek perluasan Masjid.

    Pada suatu waktu, Umar bin Khatab dundang secara kenegaraan oleh kolonial Romawi di Damascus, rombongan beliaupun berangkat. Penyambutan secara kenegaraan dengan meriah menyambut Amirul Mukminin. Dengan penuh hormat Penguasa Romawi di Damascus mempersilahkan tamu agungnya. Dengan menggelar karpet merah mereka menuntun penunggang kuda ‘Amirul Mu’minin’. Setibanya dihadapan penguasa Romawi di Damascus, acara penyerahan kekuasaan Damascus ke pangkuan Daulah Islam dimulai. Namun tiba-tiba sang penunggang kuda ‘Amirul Mu’minin’ menyatakan bahwa dirinya bukan Amirul Mu’minin Umar bin Khatab, tapi ajudanya. Sedangkan Umar bin Khatab sang Khalifah adalah yang menuntun kuda. Begitu terkejut dan takjubnya mereka dengan sikap pemimpin Islam yang mereka nilai luhur, indah dan ta’dzim.

    Jauh sekali dengan sikap kita yang terkadang tinggi hati, walau menjual diri kepada kerendahan manusiawi. Kadang ibadah kepada Allahpun ingin terpuji oleh manusia sebagai ahli ibadah, berderma ingin disebut dermawan, memberi hanya berharap yang lebih besar dan lebih baik. Sulit rasanya berbuat baik hanya Allahlah yang akan membalasnya, menyembunyikan perbuatan baik lebih sulit dibandingkan menyembunyikan perbuatan jahat. Perbuatan jahat sipatnya keluar dari fitrah manusia sehingga jika hal ini terjadi pasti akan disembunyikan dengan berbagai cara. Namun berbuat baik untuk menjaga sakit hati sesama sulit disembunyikan, kadang ingin terlihat, ditonjolkan dan ingin publikasi jika dirinya orang yang lebih baik dari orang lain.

    Beberapa catatan dari KH. Abdul Hamid (Tokoh SI) untuk mengetahui ciri-ciri riya’ :
    1. Jika beribadah kepada Allah. Masih ingin dilihat dan dinilai oleh manusia sebagai abid (ahli Ibadah)
    2. Menyatakan dengan mulut besarnya bahwa dirinya seorang ahli Sufi dan melakukan ritual tasawwuf
    3. Perbuatan dan ucapan dirinya menyakitkan hati oranglain. Seperti memasak sop yang baunya tercium tetangga, namun tidak pernah memberinya.
    4. Perkataan merendahkan dirinya, namun dengan maksud ditanggapi sebagai orang yang hebat dan sok shaleh, sok alim dan sok suci.

    – Dalam beberapa hadits tadi dinyatakan a.l. :
    Dari Mahmud Bin Labid, ia berkata : Nabi SAW. keluar lalu bersabda : “ Hai, manusia sekalian jauhilah olehmu syirik tersembunyi”. Mereka bertanya : “Apakah syirik yang tersembunyu itu ?”. Lalu Beliau menjawab :”Seseorang yang melaksanakan shalat, lalu ia menampakkan shalat yang baik dan bersungguh-sungguh, karena sedang dilihat orang lain, maka itulah syirik yang halus.” (HR Ibnu Khuzaimah)
    – Melakukan ritual tasawwuf merupakan ketinggian akhlak dan keluhuran moral bagi pelakunya. Senantiasa ia menjaga pola ibadahnya dan hubungannya hanya dengan Allah dan menjauhi duniawi yang akan menjauhkan dirinya dengan Allah. Namun bisa saja mereka terjerumus hanya dengan perkataan “ Saya seorang Sufi”. Maka seluruh amalan tasawwufnya hancur sirna bak kertas yang ditulisi dengan catatan-catatan kebaikan terbakar.
    – Inilah yang disebut kepekaan sosial, toleransi sosial-ekonomi. Perbuatan yang membuat kecemburuan sosial akan berdampak luas. Kriminalitas dengan angka yang tinggi salah satunya disebabkan karena kecemburuan sosial. Mungkin kita tidak melakukan dosa, tapi bisa jadi penyebab perbuatan dosa. Saat anak kita dibelikan Ice Cream yang mahal, tidakkah ia telah melakukan rangsangan kejahatan terhadap orangtua yang karena rengekan anaknya berkeinginan seperti anak kita, sementara ia tidak mampu. Itulah realita dan aktualita. Sehingga berhati-hatilah melakukan tindakan apapun walau hal yang kecil.
    – Ada perkataan yang seolah merendahkan dirinya, namun bermasud riya’. Seperti : “ Ah, saya mah orang bodoh, hanya lulusan Oxford”. “Siapa bilang saya orang kaya, hanya beli Jaguar bekas”. “ Ya, saya cuma seorang pegawai biasa, kepala bagian yang gajinya pas-pasan”. Ini merupakan sikap ketinggian hati alias sombong. Dimana keberadaan sebenarnya tidak sebagaimana apa yang dikatakannya.

    Riya’ bisa menghancurkan sendi-sendi kehidupan. Seseorang yang ingin terpakai oleh atasanya bisa saja ia menjual dirinya dengan menjilat dan ber-hahah-heheh saat berhadapan dengan Mr. Boss, sementara dibelakangnya menjelek-jelekan karena ingin mendapat tempat dan pengakuan oleh rekan-rekanya. Seorang riya’ akan mudah mengobral janji-janji dengan banyak omong besarnya, sementara di otaknya nol dan amalnya kosong, yang paling banyak itu busa liurnya.

    Namun lambat laun perbuatan hypokrit seperti itu akan menghancurkan dirinya, berapa banyak para penjilat politik yang hancur baik dirinya maupun keluarganya karena perbuatannya yang tanpa keberanian mengutarakan yang hak.

    Beribadahpun hanya membuang-buang waktu, sementara dihadapan Allah tidak dapat pahala sedikitpun bahkan neraka ancamanya.
    اللهم نعوبك من ان نشرك بك شيئا ونحن نعلمه و نستغفرك لما لا نعمله
    “Ya, Allah kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik atas diri-Mu dan kami mengetahuinya serta kami mohon ampun kepada-Mu dari hal-hal yang kami tidak mengetahuinya !” (HR. Ahmad dan Thabrani dari Abu Ya’la dari Khuzaifah)

    Semoga Allah yang Maha Terpuji melindungi kita dari perbuatan riya, karena hanya kepunyaanNya segala Puja dan Puji. Jauhkanlah kami dari riya ya, Allah yang dapat menyebabkan celakanya diri, keluarga dan negara. Semoga Allah tetap dalam jagaNya terhadap kami yang rentan dari riya’. Amien.

    Referensi :
    1. Al-Qur’an al-Karim
    2. Hadits Qudsi, Pola Pembinaan Akhlak Muslim KHA Dahlan Dkk. Diponegoro Bandung 1979
    3. At-Taghribu wa At-Tarhibu, Imam Al-Mundziri, Darul Ulum Mesir 656 M
    4. Dialog Jum’at Republika Edisi Januari 2004
    5. Kisah-Kisah Teladan (5 dan 8), Fa.Firdaus, Jakarta 1999
    6. Catatan Aktual Tasawwuf, T. Muchtar Fatwa, Bogor 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: