JELAJAH UJUNG GENTENG SUKABUMI

EXPLORE UJUNG GENTENG, AUGUST SPIRIT

img_20160808_184107_287
Sesuai dengan tema Menjelajah Ujung Genteng dengan Semangat Agustus. Sebanyak 43 plus 3 Driver sehingga Jumlah 45 orang menjelajah basisir di Ujung Pulau Selatan Jawa.
Sebenarnya acara ini digagas oleh sahabat Topass Sukabumi pada hari Ahad tanggal 7 Agustus 2016 dalam rangka memeriahkan dan menyambut Kemerdekaan Indonesia. Ternyata yang paling antusias dengan animo yang besar muncur dari topasser Bogor. Padahal kita sudah membatasi peserta hanya 30 orang saja, namun yang mendaftar dengan membayar lunas dan DP mencapai 50 orang.
Start di Taman Kencana Base Camp TOPASS sejak tahun 1993, Sabtu 6/8/2016 jam 7 pagi topasser sudah mulai muncunghul dengan peralatan tempur lengkap. Akhirnya terkumpullah 43 topasser yang penuh semangat untuk menjelajah UG. Loading dengan 2 Mobil bak terbuka dan 1 truk serta 1 motocross. Semuanya dapat subsidi anggota Topass. Jam 8.45 semua sepeda sudah naik truk.
Briefing dan do’a dipimpin langsung Ketum. Etika diperjalanan, tata tertib disiplin dan sopan santun harus dijaga dan harus menjadi budaya dan darah daging topasser. Senantiasa ingat kepada Alloh SWT. Sebab bersepeda bukan sekedar gaya-gayaan apalagi hura-hura, namun bersepeda merupakan media menuju mardhotillah dengan menjaga kesehatan baik jasmani dan rohani. Shilaturahim adalah tradisi topasser. Maka, sesuai dengan moto Topass 2016 : “Dengan Bersepeda Mari Kita Jalin Keramahan dengan Sesama dan Lingkungan”.
Dengan diawali do’a tepat jam 9.00 maka robongan topasser berangkatlah dengan penuh suka cita.
Perjalanan loading dari Taman Kencana dengan route Pajajaran, Tajur, Ciawi, Cicurug, Cibadak sampai Cikembar berjalan lancar. Sebenarnya ada razia di daerah Cimande, namun rombongan kita bypass, di depan tiap mobil ada Banner : Topass. Sehingga tepat jam 12.00 kita rehat di Terminal Cikembar untuk Sholat Dhuhur dan makan siang. Hanya sayang mushola dan toilet di terminal kumuh dan nggak ada air. Sehingga untuk sholat kita berjalan 500 meter ke dekat Telkom dan Diknas Kecamatan. Makan lumayan enak dan murah meriah.

img_20160807_093915
Setelah menunaikan kewajiban maka berangkatlah rombongan meneruskan perjalanan dengan route Ubrug, Bagbagan, Kiara, Ciletuh, Surade. Di masjid Kaum Surade Rombongan kembali rehat. Dan Shilaturahim dengan sobat ISS (Ikatan Sepeda Surade) dengan humas Wa Dudung sekaligus baraya ISS inilah yang akan mengguide Topass. Maka diputuskan rombongan ISS akan bergabung besok pagi di Cibuaya. Ada masukan untuk menggowes sepeda dari Surade ke Cibuaya UG. Namun mayoritas suara menghendaki Loading saja. Maka Voting memutuskan Loading untuk berhemat tenaga. Memasuki kawasan UG dipungut retribusi mintanya tiap mobil 30 ribu namun jadinya 50 ribu saja untuk semua mobil. Thx ya pa.
Jam 17.30 sampailah di Pantai Ujung Genteng. Belok kanan dan berjajarlah penginapan mulai dari kelas emper sampai Inn.

img_20160806_125241

Jam 17.30 sampailah di Pantai Ujung Genteng. Belok kanan dan berjajarlah penginapan mulai dari kelas emper sampai Inn. Keputusan diambil bersama untuk menginap di masjid yang menghadap pantai. Masjid yang cukup besar dan bersih. Saat maghrib selepas sholat diramaikan anak-anak yang mengaji. Menjelang Isya masjid mulai rehe saat anak-anak sudah pada pulang. Jamaah maghrib yang biasanya dipenuhi orangtua baik laki maupun perempuan, di masjid yang cukup besar ini cukup diisi tiga orang dewasa saja, itupun keluarga marbot yang juga imam masjid Kang Ustad Khoer. Yang meramaikan saat itu tentu saja jamaah Topass saat sholat berjamaah, yang tidak biasa sholat juga ngarasa era milu sholat berjamaah. Setelah sholat Isya, Topasser banyak yang dengan sepedanya menyusuri pantai menikmati suasana pantai di malam hari. Sementara itu kang Guru menyiapkan makan malam ngaliwet yang dipesan sama istri Ustadz. Sekira jam 21 liwet sudah tersedia yang digelar diatas daun dipisang di halaman masjid. Lauknya ikan asin sepiring kecil dan kurupuk se toples kecil plus sambel dua sendok. Katanya itu porsi buat 45 orang. Sebagian yang jalan-jalan beruntung bisa makan di pantai dengan harga tidak terlalu mahal dan dapat menikamati makanan sesuai selera. Yang tidak jalan-jalan akhirnya makan juga tuh liwet ala kadarnya sekira 12 orang yang kurang berselera. Dan ikan asin sambal dan kurupuk tidak cukup untuk selusin orang. Saat disisakan bagi teman-teman saat kedatangan selepaas jalan-jalanpun mereka tidak berselera. Saat pembayaran pada pagi hari sebelum start menjelajah itu liwet dihargai 350 rebu sama istri ustadz. Sarapan pagi nasi goreng bungkus plus telor 1 dihargai 15 rebu/box sehingga total jendral kita harus membayar 975 rebu.

img_20160807_083901

Pengalaman yang tidak meng’enakan’ terasa di todong. Belum lagi tidur yang tidak memberikan kenyamanan dengan banyaknya kaki seribu yang terus menyerbu sehingga terasa geli dan bahkan pa Nardi bibirnya bengkak alias Jeding. Belum lagi ada sahabat Topass yang menggaggu kenyamanan tidur saat waktu menunjukkan pukul 2.30 malam-malam memutar sholawat dan lagu religi keras-keras di masjid. Padahal saat tahrim saja biasanya paling 15 menit sebelum azan Subuh. Harusnya toleransi bagi kita semua yang membutuhkan istirahat cukup setelah perjalanan lama dan menghadapi tour yang membutuhkan stamina besok hari. Hampi semua menggerutu atas perilaku tersebut.


img_20160807_101344
Biasanya saat masjid menjadi pilihan bukan sekedar gratis, tapi sudah diniatkan semua untuk bershodaqoh bagi masjid dengan dana yang dikumpulkan. Rencana menyumbangkan shodaqoh 1 juta kandas, karena sikap komersialisme istri ustadz.
Berita dari teman Giant Sukabumi dan Bandung, Topass Chapter Sukabumi dan Bandung mereka dapat Penginapan hanya 250 rebu dengan kapasitas 50 orang plus air panas buat ngopi dan masak.
Ah, rasanya penyesalan tidak datang di depan. Tapi nggak apalah, justru sesuatu yang baik itu belum tentu baik pula kedepaannya, tapi sesuatu yang buruk kemungkinan akan menjadi baik. Rahasia Tuhan kita tidak tahu.
Itulah perjalanan hidup tidak selamanya manis dan menyenangkan, terkadang pahit. Itu semuanya pembelajaran. Sehingga memunculkan ide kreatif dari Topasser saat touring berikutnta untuk membawa persediaan logistik sendiri dengan kewajiban setiap perserta membawa ‘sesendok’ beras dan ‘sepotong’ lauk asin. Alat masak sudah tersedia inventaris Topass berupa Kompor gas dan alat masak serta tenda. Baru kerasa kalau hidup itu harus mandiri.
Jam 9.00, pasukan ‘ISIS’ Ikatan Sepeda Surade, sudah datang menjemput kami, Sementara Rombongan Giant Sukabumi terhambat diperjalanan daerah Cikembar mobil loader sepedanya mogok. Akhirnya kita putuskan perjalanan kali ini di guide ISS. Dengan diawali do’a dan briefing brul rombongan ngagowes dari pantai UG menjelajah Kebon Kalapa, Sawah, Hutan, kubangan banteng dan jalur banteng lewat sekitaran UG. Perjalanan panjang dan sangat melelahkan.
Setelah rehat pasukan terpisah, inipun karena guide kita ISS belum pernah melewati trek baru kita dari pantai Ombak 7 lewat hutan. Yang lain kembali ke trek lama. Sementara rombangan Ketum, Karim, Jemping, Ompong dll menyusuri pantai yang berat dan panas. Saat seperti ini benar-benar air adalah harta tak terkira. Uang di dompet, Kartu Kredit, kartu Debet, Emas di tangan, nggak ada gunanya. Ironis memang di antara deburan ombak dan melimpahnya air justru air yang dibutuhkan. Air di bidon berbagi dengan yang lain hingga kosong. Saat nyampe di rumah penyu, ada air didapur dengan rasa tak karuan menjadi sesuatu yang menolong, daripada dehidrasi. Saat itu penunggu rumah penyu kosong, sisa kopi dan air di botol menjadi pemuas haus yang teramat sangat berguna. Maaf pa penunggu penyu saat itu airnya diminum. Tercatat yang hampir pingsan Eful dari ISS, pa RT dsb.
Perjalanan masih panjang, lewat muara yang konon masih banyak buayanya kita menyebrangi sungai, masuk hutan belantara, jalan setapak jalur air hujan sebenarnya, setelah cukup lama dan tenaga hanya sisa kekuatan seadanya ditemukanlah jalan setapak. Yang ini jalan orang bukan lagi jalan banteng. Akhirnya sampai di kebon kalapa, dan ada warung. Inilah oase sesungguhnya, warung diserbu air di borong dan kesegaran mengalir, apalagi teh manis hangat asa ngaburinyay dan memberikan doping sesungguhnya. Badan segar dan pulih deui. Bisa tersenyum dan tertawa lepas. Sinyal didapat, driver diminta ke Pantai Pangumbahan saja.

Ternyata perjalanan ke pantai Pangumbahan dari Kebon kalapa cukup jauh dan single trek tanah dan makadam banyak tanjakan. Korban berjatuhan, anu tiguling, anu nyuksruk, anu tabrakan. Anehnya kali ini masih bisa tertawa baik korban maupun penonton. Itulah hebatnya pesepeda.
Di depan Penangkaran Penyu, Pantai Pangumbahan tim Loading berpapasan dan dengan serta merta sepedapun ting terekel naik pick up.
Di Tikum Masjid Cibuaya, segera semua bergabung, rehat dan bersih-bersih, maka berangkatlah rombongan meninggalkan Ujung Genteng. Di Bogor nyampe jam 1 Malam. Alhamdulillah semua Topasser UJUNG GENTENG EXPLORE AUGUST SPIRIT dapat kembali ke keluarganya dengan sehat selamat sejahtera lahir dan batin. Amien
Selamat Berpetualang Kembali,
Mari ke Curug Citiis, Kamojang dan Cibeureum Camp GARUT ! Insya Alloh Akhir Tahun 2016

Categories: bogor, Komunitas, Komunitas sepeda, MTB, Sepeda | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: